Memelintir

aku suka mengarang sajak. kata-kata umpatan bisa jadi pujian.
bisa menjelmakan sebuah kenistaan menjadi ranum syahdu.
juga tentu sanggup melaknatkan kata-kata tulus menjadi cecar pitam.
atau senang hati jadi pisau belati.
itu semua karena kau tidak mengerti.

aku suka saat kau tidak mengerti. butir air itu kata-kata.
aspal juga kata-kata. ban motor yang terbolongi itu juga mengeluarkan kata-kata.
pikiranku yang diam ini karena mereka sibuk bicara satu sama lain.
tentang bagaimana caranya supaya kau jadi tahu, dan berpikir.

tapi tiga bait ini jangan dipikir.
yang melihat ini saja tak tentu peduli, apa mau jariku.
aku mau kamu. ya, aku mau kamu. semua huruf menggila.
mengelilingi bakaran sampah, kaum mereka sendiri yang terbuang.
terbuang karena sulit membuat kau mengerti.

mengerti?

Saat Surga Terdiam

aku juga ingin jadi manusia.api dalam darahku ingin aku padamkan.
aku juga bisa menangis, meski hanya bohong.
tapi itu sudah cukup, bumi sudah tahu.
malamku jadi pagi, benalu dalam tungku.
lihatku saja tidak mau.
begitu?

aku ingin putuskan asa.
yang melubangi pelipismu saat kau mengunci dirimu dalam satu ruang,
siapa yang bisa melihatmu? keji? humanis? apapun! percuma!
matahari pagi sudah jadi musuhmu. kelambu…
hidupmu kala kau atur sendiri, memang paling bisa.
bisa apa?

gila kau.
ingin jadi manusia saat manusia ingin jadi engkau.
kuat lemah hanya takar tidak berujung, jika kamu menghendakinya.
aku bisa memilin, seuntai talian cemas dalam kesempurnaan.
dalam pekat gelap ini, dunia kita juga sudah sempurna
menurutmu?

kita bisa jadi satu, kita bisa jadi banyak.
lupakan satu nyata, yang dia berikan hanya ucapan selamat berjumpa.
aku tahu kau butuh lebih dari itu, satu dunia.
kepada lupa kita menganga, atas sesuatu yang kita buat.
celaka kita…
meminta segala saat surga terdiam.

masih ingin jadi manusia?

200 Bersegala

jadi ceritanya gini…

saya lagi duduk depan komputer gak jelas mau ngapain setelah ngulik chord gitarnya Scandal – Awanai Tsumori no Genki de ne yang sangat susah sekali karena saya ngulik sambil lihat videoklipnya yang membuat saya terdistraksi dengan sangat hebat. kamu memang hebat haruna! (?) dan setelah bengong-bengong gak jelas dan scrolling2 reader wordpress, kemudian jari saya gak sengaja ngeklik my blogs dan gak sengaja juga mata saya ngeliat tulisan post saya yang sudah 199 artikel. berarti posting yang sedang saya ketik sekarang ini adalah posting ke 200 dan saya juga baru sadar beberapa menit yang lalu. ini semua pasti karena gingsulnya haruna (?) Continue reading

Aku Juga Bisa

kepalaku, mata angin topanku.
ia terus berputar dan melahap semua sekitarnya.
kopi yang sekedar tercampur air ini pun ia minum setengahnya.
rasa-rasa ia mainkan hingga menjadi marah.
kemudian beterbangan ke jembatan layang, menggila disana.
malam ini menjelma mesin dansa. pondasi poranda.
dari semen dan air yang menempel pada rangka-rangka,
bertopang segala kepadanya. dan kemudian meranggas saat diajak
berdansa.
seperti kemarin kau masih mengelukan namaku,
kemudian hari ini kau selipkan isi margasatwa disana.
aku juga bisa meranggas ternyata…

Lima Lebih Tiga Sore

Aku yang duduk di kursi,
tapi bukan engkau yang menceritakannya.
kepada cerita-cerita yang lain aku menghadap.
butir air melangkah dan gempita swara.
mengubah kartini menjadi,
habis gelap, terbitlah hujan.
dalam dadaku suaka margasatwa.
sering kubiarkan anjing,
liar berkeliaran disana.
tirai hitam, tanpa pantul.
dibaliknya makna tersirap.
satu dua kata yang tertinggal,
jalan lagi kuambil, mengantarkan.
selain itu, makna yang terasingkan,
mengungsi dari kesejatian.
perigi-perigi kata mulai kering,
kutanggalkan pena dan jari-jari,
yang lelah mengungkap semua yang berlindung,
dari kesalahan, kesunyian,
kepalsuan

Sajak Hari Bumi

hari dan bumi sebetulnya tidak ada hubungannya, nona.

sekedar bumi melintasi jalan yang telah ditentukan untuknya semenjak penciptaannya yang hanya satu kata didalamnya, kemudian menjadi.
ukuran insan yang mengawal sadar mereka akan waktu, apakah sudah terlalu lama mereka melangkah di bumi, atau baru sekejap saja.
dan lagi, semuanya relatif. seperti saat tanganmu tersentuh panci sekejap saja dan terasa bagai selamanya, juga seperti saat aku kamu cengkrama dan tukar pandang di bangku yang masih sedikit basah dan masih berserakan daun-daun kering dibawahnya. selama apapun, kurasa waktu tak pernah berlalu meninggalkanku.

dan di hari bumi ini, mengapa kau tidak mandi, nona?

Bermain Peran

persona, kedok dihias, bertabir.
bermuka sesukanya, pilih kata bicara.
ayun kaki satu dua, tuju kemana saja.
aku juga ingin bertemu dengan ujung,
membawa cerita-cerita yang tidak aku pedulikan,
lalu kutumpahkan semua didepanmu.

terus bermain atau biarkan gelap merasuk.
fiksi dan imaji yang kelam terlampau bangkit.
dalam serah diri dan sesal, kita semua melintasi,
jalur lajur yang kita pilih sendiri, menuju hancur.
kemungkinan, kesempatan dalam utopia berpura-pura,
semua berhura-hura.

ambil topeng, lalu bermain peran