Kabur Pandang

favim-com-7235

meskipun belum pernah terbayangkan,
ujung jarak terjauh yang akan kulalui dalam
segenap untaian tangis, tawa dan kata-kata di udara,
diam yang laun remuk menjadi ruang hampa,
dan diri yang hanya bisa berandai dalam harap,
namun…

dalam kabur pandang ini,
selalu kumohon agar segala permintaan menjadi
penunjuk untuk hal-hal terbaik.
agar doa menjadi sebuah kesadaran,
tentang lemahnya raga yang ditenggelamkan waktu,
tentang rapuhnya hati yang diluluh lantakkan kenyataan.

hingga pada akhirnya, isi benak yang terlampau luap ini
menguap, menjadikannya putih di angkasa.
diarak bayu, menuju ke tempat yang kita tak tahu.
menjadi hujan, menjadi sungai atau menjadi
sebuah tanda tanya.

Ruang Berkarat

Selamat berjumpa kembali, ruang keparat!
Ini aku, yang dulu selalu menimbun umpat.
Tuang murka dari celah-celah yang tak rapat,
Kerap seruak dari tangis yang sarat.

Ruang keparat! Aku rindu!
Ingin menghantam dengan kataan baku,
Mendendam tanpa batasan waktu,
Beringas, tak kenal kelu.
Terus menggonggong tiada berlalu,
Hingga kafilah takut padaku, tak berani maju.

Walau dengan tangan hampa, tak pernah sesali.
Kedatanganmu kuharap mengembalikan arti.
Pada diri yang tak akan pernah sempurna ini.
Yang penuh karat dalam hati.

( Bandung, 31 Agustus 2015 )

Pahit Lidah

Bara meradang,
Sukma terbilang.
Cecar menyambang,
Bungkam, lalu hilang.

Diantara pasir yang terperangkap di sela-sela jari kala rangkak-rangkak,
Serapah sumpah tak jelas digumamkan.
Bahwa kedigjayaan yang nyata telak,
Telah hadir memandang raga.

Tegak kutunggu,
Duduk kutunggu,
Baring kutunggu,
Dirimu, Kebangkitanku

Zephyr

Asap dari benda yang diapit dua jarinya lalu membumbung tinggi,
Seakan direlakan pergi. Diantara tirai di langit, mencari arti.
Menghembuskan nafas pada kata-kata yang kau ucapkan,
Mengikhlaskan yang pergi ke langit dan tak akan kembali.

Sedikit diam banyak bicara, namun benda yang kita naiki ini tak akan pergi kemana-mana.
Suaramu memecah dinding kebisingan. Menyingkap malam menjadi pagi, hancurkan bulan menjadi mentari.
Arak-arakan yang terbawa angin juga tak akan kembali. Percikan benda yang diapit dengan dua jarinya merambat menjadi api, sewarna sore ini.

Hanya masalah waktu, yang kuinginkan hanya membawa langit hari ini menuju 4 hari yang lalu.
Agar bisa kutunjukkan dalam nyata, kemana kita bila suatu saat nanti harus merelakan diri masing-masing.
Kembali ke tanah, kembali ke langit,
Tertiup angin sepoi-sepoi.

Si Jalang ini Juga Ingin Dicintai

kemarin kau dicintai.
dijumpai nafas tersadar lelap, dijamah lelah, disapa pejam mata.
hari ini kau dicintai.
dijumpai nafas tersadar lelap, dijamah lelah, disapa pejam mata.
hari esok kau dicintai.
mereka yang cintaimu saat kau jumpai nafas tersadar lelap,
atau,
mereka yang cintaimu saat disapa pejam mata, selamanya.

bila semakin cinta, semakin ingin bertemu.
pertanggungjawaban segala rindu.
namun satu yang tak akan kau sangka,
rindu bersua atau rindu menyiksa?