Zephyr

Asap dari benda yang diapit dua jarinya lalu membumbung tinggi,
Seakan direlakan pergi. Diantara tirai di langit, mencari arti.
Menghembuskan nafas pada kata-kata yang kau ucapkan,
Mengikhlaskan yang pergi ke langit dan tak akan kembali.

Sedikit diam banyak bicara, namun benda yang kita naiki ini tak akan pergi kemana-mana.
Suaramu memecah dinding kebisingan. Menyingkap malam menjadi pagi, hancurkan bulan menjadi mentari.
Arak-arakan yang terbawa angin juga tak akan kembali. Percikan benda yang diapit dengan dua jarinya merambat menjadi api, sewarna sore ini.

Hanya masalah waktu, yang kuinginkan hanya membawa langit hari ini menuju 4 hari yang lalu.
Agar bisa kutunjukkan dalam nyata, kemana kita bila suatu saat nanti harus merelakan diri masing-masing.
Kembali ke tanah, kembali ke langit,
Tertiup angin sepoi-sepoi.

Si Jalang ini Juga Ingin Dicintai

kemarin kau dicintai.
dijumpai nafas tersadar lelap, dijamah lelah, disapa pejam mata.
hari ini kau dicintai.
dijumpai nafas tersadar lelap, dijamah lelah, disapa pejam mata.
hari esok kau dicintai.
mereka yang cintaimu saat kau jumpai nafas tersadar lelap,
atau,
mereka yang cintaimu saat disapa pejam mata, selamanya.

bila semakin cinta, semakin ingin bertemu.
pertanggungjawaban segala rindu.
namun satu yang tak akan kau sangka,
rindu bersua atau rindu menyiksa?

The Love That I Thought, May Not Be Love At All

jadi ceritanya saya habis menonton sebuah film yang dimana endingnya adalah gambaran kenangan-kenangan indah dan senyuman yang tulus dari para pemeran utama untuk satu sama lain. tapi yang saya rasakan adalah semacam perasaan sesak di dada. tentang harapan dan keyakinan yang perlahan-lahan terkikis waktu, berubah bentuk karena perkataan dan perbuatan yang dilakukan sehingga menghasilkan sebuah kenyataan dan masa depan yang sama sekali berbeda dengan apa yang semula diinginkan. kemudian sesuai dengan umur (atau mungkin tidak) muncul sebuah pertanyaan di benak saya yang mungkin terdengar klise apabila diucapkan. apa itu cinta? apakah sesuai dengan yang saya bayangkan? karena setelah melihat film ini, saya pikir apa-apa yang saya ketahui tentang cinta sama sekali jauh berbeda dengan cinta yang sebenarnya. Read More

Angkasa (Bagian Akhir)

tumpuan tanganku mengadu,
kian memberat lalu ia jatuh mengaduh.
mengais sisa kata dari senyum rapuh.
engkau ke seberang bayu.

raga ini kaku, berharap pada langkah yang tak mampu.
detak-detak dalam tegun, didekap bulan kedua yang jadi lalu.
pandang terpaku pada kembang sayapmu,
melukis kanvas jingga dan biru.

selamat jalan,
kata-kata yang tertinggal ini akan aku bakar,

agar aku hangat dalam kedinginan,
agar aku terang dalam kegelapan,
agar aku hilang dalam kenangan.

Landasan (Bagian Dua)

ada api yang kulihat,
menyeruak dari kelam dan sunyi hati.
menggerogoti,
tulang menyusun mereka yang lalai.
membakar daging, merangkul daun-daun kering.
berselimut terang kelabu,
api masih menari.

pekak kudengar rayuanmu,
merajut kabut hingga surya tak mampu menembusmu,
ruang waktu tak sanggup memelukmu,
dan kata maaf tak lagi cukup untukmu.

wahai hari esok yang akan mati,
untukmulah layang kata-kata ini!
hingga nanti saat kita tertatih-tatih mencari arti masing-masing diri,
aku akan terus melihat api,
walau telah padam ia menjadi.