@pasarseni2014 : Pasar Seni Atau Pasar Orang?

sulit bergerak

where do I start….

pasar seni ITB. apakah saya sudah pernah kesana sebelumnya? ternyata belum. saya juga baru tahu kalau acara tersebut dilaksanakan setiap empat tahun sekali. demi hidup yang lebih artsy, saya memutuskan untuk pergi kesana meskipun agak pesimis dengan cuaca yang akhir-akhir ini hampir setiap hari diguyur hujan. tapi demi empat tahun sekali, kenapa tidak? saya pikir. juga, band indie yang saya suka (L’alphalpha) ternyata manggung di acara itu. tentu saja saya jadi semakin ingin kesana.

skip menuju hari H, kejanggalan mulai terjadi. kenapa banyak stasiun tv yang menayangkan kondisi acara secara live? kenapa begitu banyak orang disana? oh tentu saja karena publikasi. tapi apakah penyelenggara acara sudah mengakomodir kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi karena besarnya efek yang akan diakibatkan oleh liputan acara tersebut? saya cuma bisa menebak-nebak saja. berangkatlah saya sekitar pukul 13:00.

di jalan, wastukencana tepatnya, antrian kendaraan yang bisa dibilang abnormal menyambut saya. sengaja menghindari pasupati karena dari pemberitaan media terlihat sudah sangat macet. saya pikir ini adalah contoh kasus memilih hal yang keburukannya paling sedikit diantara yang lain. saya jadi ingat pemilu kemarin…

mungkin belum cukup dengan macet saja, disaat terjebak macet di tamansari yang selain disebabkan pasar seni rupanya disebabkan acara UNPAS yang tidak tahu apa, hujan pun turun. motor saya terjebak ditengah-tengah sehingga sulit untuk menepi dan berteduh. akhirnya ya hanya bisa pasrah saja. dengan baju dan celana yang kebasahan, kemudian saya parkirkan motor saya di sekitar kawasan balubur karena ternyata daerah menuju jalan ganeca sudah diblokir. berjalanlah saya menuju kesana.

ini terlalu, saya pikir. banyak sekali manusia yang entah turun entah naik arahnya, kendaraan-kendaraan yang terparkir memakan jalan, dingin dan angin karena hujan yang tak kunjung reda, di tambah saya yang belum makan siang. pemandangan ini membuat mata sedikit berkunang-kunang. saya terus berjalan.

sebelum hujan, sebelum ramai. ya, belum ramai

sebelum hujan, sebelum ramai. ya, belum ramai

sampai di gerbang pasar seni, saya disambut genangan air, prakarya yang ditutupi semacam spanduk agar tidak basah mungkin, dan seperti yang bisa dibayangkan, lautan manusia. saya terus berjalan melihat di area parkir motor ITB sebelah kiri dipenuhi dengan stand makanan. sedikit maju ke depan akhirnya terlihat gerbang ITB yang dipenuhi dengan mereka yang berteduh dari hujan. kemudian saya masuk gerbang.

bingung, itulah yang pertama saya rasakan. entah saya yang tidak awas atau bagaimana, tapi saya kesulitan untuk menentukan “ada apa dimana” di acara ini. tidak ada petunjuk-petunjuk arah yang jelas. tiba-tiba saya ada di kawasan stand penjual pakaian. tiba-tiba saya ada di kawasan penjual makanan. tiba-tiba saya disini, tiba-tiba saya disitu. terbawa arus desak-desakan manusia. padahal saya sedang mencari-cari karya seni. setidaknya yang tidak kebasahan hujan.

akhirnya saya pilih menepi ke koridor-koridor fakultas. ada banyak gunungan disana. gunungan sampah. sulit mencari tempat sampah disana. acara yang besar resikonya memang seperti itu. hanya saja mungkin karena ditambah hujan yang becek membuat saya sedikit menggerutu. saya terus berjalan.

berputar-putar, akhirnya saya ada di tengah. di dekat tyrannosaurus. di dekat kepadatan manusia diluar batas kewajaran. mereka berfoto membelakangi karya raksasa itu bersama mungkin teman-teman, mungkin keluarga, mungkin pasangan, mungkin yang diharapkan jadi pasangan, mungkin yang diharapkan tidak jadi pasangan. saya memilih keluar saja.

diluar, saya disambut pelukis yang dikerumuni banyak orang. tak lama kemudian saya lihat asap dari lukisan yang ternyata dibakarnya. entah untuk apa. tak jauh dari situ, ada manusia dalam kerangkeng bulat yang tersambung tangan mekanik raksasa. mengesankan. ashar tiba, saya pun menuju masjid salman.

setelah selesai ashar, saya coba buka twitter untuk melihat informasi kapan l’alphalpha main. ternyata mereka sudah main tadi sekitar pukul 14:00an. melihat ini membuat saya kehilangan alasan untuk tetap disini. akhirnya saya beranjak dan meninggalkan acara tersebut. terhibur? kecewa? campur aduk.

ini belum ramai

dari segi konsep dan tujuan acara, sangat saya sukai. membuat seni lebih mudah diakses oleh siapa saja, memberikan gambaran tentang bentuk-bentuk seni yang kekinian dan lain-lain. seniman-seniman yang mengisi acara pun saya yakin bukan sembarangan. namun dibalik itu semua, ada beberapa hal yang saya sayangkan.

pertama, saya tidak menyalahkan publikasi yang saya nilai luar biasa itu. tapi bila di lihat di lapangan, penyelenggara acara seakan belum siap menghadapi pengunjung yang sebanyak itu. dari respon orang-orang yang bisa dibaca di dunia maya, koordinasi dengan aparat untuk penertiban jalan pun saya nilai kurang. tanggal acara yang bersamaan dengan beberapa event yang dilakukan oleh instansi berbeda (UNPAS, UNPAD, UNISBA) yang satu kawasan pun saya rasa memberikan beban lalu lintas yang lebih berat dari yang diperkirakan.

dari segi acara, petunjuk-petunjuk kawasan acara kurang efektif. membingungkan dan ditambah pengunjung yang sangat banyak. entah karena petunjuknya kurang banyak, kurang besar atau dalam peletakannya kurang strategis. tempat pembuangan sampah pun kurang hingga menyebabkan banyak sampah menumpuk dan berserakan. hujan di hari itu seakan melengkapi semuanya.

silahkan bila ada yang memprotes tulisan ini dalam bentuk apapun. saya hanya menyampaikan apa yang saya rasakan saat mengunjungi acara ini. saya tidak akan repot-repot menulis postingan panjang seperti ini bila saya tidak peduli. saya sangat menyukai karya seni dalam bentuk apapun. pasar seni ITB buat saya ibarat angin segar bagi keinginan saya untuk melihat berbagai macam karya seni. acara ini sangat saya tunggu dan harapkan karena saya pikir 4 tahun adalah waktu yang cukup untuk merencanakan acara berskala seperti itu. tapi memang mengejar kesempurnaan itu tidak mungkin.

saya harap postingan ini menjadi ditanggapi dengan bijaksana oleh siapapun yang membaca. syukur-syukur bisa membangun event lain yang serupa menjadi lebih baik kedepannya. tapi paling tidak, bisa jadi cerminan bagi kita semua tentang pentingnya pematangan rencana dan antisipasi segala kemungkinan yang akan terjadi.

 

3 comments

  1. adzhanihani · November 27, 2014

    Setuju, aku juga kecewa. Sangat.

    • Diffa Imajid · November 27, 2014

      saya harap kedepannya semakin besar publikasi, semakin matang pula perencanaan dan penanganan resiko yang bisa terjadi. mudah2an jadi lebih baik lagi acaranya😀

      • adzhanihani · November 27, 2014

        Aamiin. Semoga aja ruang seni untuk nikmatin seni yang sebenernya tujuan dari acara juga disediain dengan baik. Bukan sekadar ngejar target orang banyak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s