Kastil

abu-abu, bendung segala alur waktu.
genggam bumi, segala apa yang diatasnya. merekah.
desir angin dari sela-sela susunan batu.
butir hujan jatuh padanya, hanya berbalas rindu dengan mata air.
air mata dari langit yang tercakar menaranya.

lumut-lumut tertumbuh, rawa terbelah.
dan dia menunggu. menunggu lama sekali.
hingga lorong-lorong didalamnya terisi lalu lalang,
hingga kamar-kamar terisi sehangat badan,
hingga aula terisi gelak tawa, hingga jendela-jendela membukakan harap.
hingga surya mengintip dari kaca indah berwarna,
hingga tanah tak dapat dipijak lagi.

tak luput dari pandang siapapun, namun.
tak terjamah, tak tergerak, tak meratap.
ia terlihat kokoh dalam rapuhnya.
megah dalam sunyinya, abadi dalam sementaranya.

yang hanya ingin diisi saja.
tidak lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s