#Sajak Lelaki Pemancar Sinyal

serupa tiang besi aku berdiri,
sejajar teratur kepak sayap merpati.memandang orang-orang menggerak kaki,
kutitip pada gelombang suara beberapa kata sandi.
tentang bagaimana aku bosan sendiri berdiri
memancarkan kata-kata yang orang lain tak mengerti.
dan dengan segala keinginan yang membebani,
kalimat tanya yang sama terucap lagi.
sampai kapan terus begini?

untuk pertama kali, mata kuarahkan pada langit biru,
petir halilintar bersatu padu.
kumintakan pada mereka yang buat langit menderu,
sebuah tanya yang tak lagi baru.

bersama sambarannya kukirimkan ucap lisan dalam frekuensi.
semoga menghantam kepalamu dengan keras.
bergema dalam telingamu, mencapai isi otakmu, meremukkan isi hatimu.
membuatmu menyusul ke atas sini dan menumbangkanku.
agar tak ada lagi pancaran sinyalku mencarimu.
agar aku menemukanmu.

4 comments

  1. Gusti 'ajo' Ramli · February 12, 2014

    Tower telekomuniksi ya..

  2. mahawati · February 14, 2014

    Cuaca buruk sinyal jelek

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s