Mengingat Apa Yang Kau Ucapkan

*kemudian kegiles kereta*

saya baru menyadari dua hal sore ini.

pertama, kopi sachet yang saya tuang ke gelas ternyata belum saya beri air panas. jadi pas saya mau minum, bubuknya turun ke bibir saya. hal ini tidak membuat saya marah, tapi tidak membuat saya terhibur juga. jadi apakah yang diperbuat hal ini kepada saya? pada akhirnya, saya cuma minum air putih saja. tapi bubuk kopi yang sudah dituang ternyata sulit dimasukan kembali ke bungkusnya. entahlah bagaimana nasibnya nanti.

kedua, ternyata saya tidak pernah bisa mengingat kalimat-kalimat yang diucapkan orang lain maupun saya sendiri dalam sebuah percakapan secara penuh.

entah terjadi sama orang lain atau tidak. tapi menyadari bahwa saya nggak terlalu bisa mengingat hal kayak gitu secara tidak terduga cukup menganggu saya. ini saya rasakan pada saat akan membuat postingan yang formatnya berbentuk percakapan. saya sebetulnya ingat dengan inti obrolannya. tapi merekayasa kalimat-kalimat obrolan terkesan kurang menarik bagi saya.

saya senang dengan ketidak sempurnaan seseorang pada saat berbicara. misalnya saja jeda, pengucapan kalimat yang belibet, atau pengungkapan makna yang dimaksud orang tertentu dengan pemilihan kata tertentu. apa yang bisa saya reka tentu berbeda dengan apa yang lawan bicara ucapkan meskipun maksud & tujuannya bisa saya tangkap.

intinya, saya ingin bisa mengingat semua yang pernah orang lain ucapkan. tapi saya orang dengan tingkat fokus yang rendah. jadi bagaimana kira-kira?πŸ˜†

2 comments

  1. kista · February 3, 2014

    like thisπŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s