Janji Yang Tak Sanggup Kutepati

Nama-nama saudara kandung dan warna kesukaanmu yang aku dapat dari mempelajarimu di malam hari, melewati serat-serat kabel yang kemudian menghubungkan antara keinginan bertemu dan kenyataan yang tidak seindah itu. Aku takut bila nanti Januari aku membeku & kau berharap bahwa kau sendirian di satu waktu, takut melawan tabu.

Tak ada yang ingin sendirian di bulan-bulan pada musim dingin. Pintu dan jendela dihias dengan lampu-lampu. Tak mungkin. Aku tak mau waktu dan haru yang kurasa ini ditelan begitu saja oleh hal-hal sentimentil. Ingin yang nyata saja. Kamu ingin begitu atau tidak, aku juga tak tahu. Inilah yang kukesalkan pada jalan salju. Ia tak pernah menjadi hangat, lalu menghilang begitu saja dengan bersama musim semi.

Dimana kamar yang selalu mencariku dalam perihal mimpi? Setidaknya disana aku bisa membekukan segalanya. Baik kesan ataupun pesan di setiap kehadirannya. Seindah-indahnya dunia, tanpa kehadiran beberapa anomali didalamnya tentu tidak akan menarik. Mungkin itu aku. Atau kau. Atau pintu yang berhias tadi?

Beritahu aku, syarat dan ketentuan yang kau berlakukan. Kepada musim yang akan membawamu kelak untuk berganti menjadi jernih air dan mekar bunga. Mudah-mudahan petir mendengarku, lalu membawa segenggam tanya ini dan menyambar kepalamu. Biar tahu bagaimana rasanya kata dan raga yang membelah langit.

Aku tak sempat menggambarkannya. Maka kutuliskan. Sengaja agar kau tak mengerti. Karena hal-hal yang sudah jelas saja kau tak peduli, lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s