Satu Kala Adalah 144 Detik

kilatmu sayu, matamu ayu, saat di ruang hampa kita bertemu.
mengukur jantung, seberapa lama lagi berhenti, sebelum jagat ini menyempit.
sempit oleh sisa-sisa gelombang kejut, yang terkirimkan saat satu kembang senyum.
belulangku retak, serat ototku terputus, darahku melayang-layang.
tapi tak apa, karena rasa sakit hanya sekedar yang aku benarkan.
karena aku sedang bahagia. menatap taring sepuhan api, membara.

sebelah tanganmu kepada sebelahnya yang lain.
dedaunan dataran selatan dan juga kabut tipis yang serupa kelambu.
diatas puncak ini aku mengadu, aku mengaduh.
kepada rasa, aku tertegun. telapak tanganku mengatup, sayapku terkembang.
“terima kasih”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s