祈り

Memandang ban motornya yang terasa sudah berkurang beberapa milimeter, dia hanya tersenyum dan melanjutkan perjalanan pulangnya dari kantor. setelah seharian bekerja ditambah sedikitnya waktu di malam hari, setiap pulangnya ia jadikan hiburan tersendiri. dalam kelok kendaraannya, akselerasi mesin dan gesekan dengan jalanan aspal, dia membayangkan banyak skenario hidupnya yang telah terjadi dan membayangkan bila ia memutuskan untuk melakukan hal yang lain pada waktu itu.

sembari mendengarkan musik, lampu kota di malam hari serta para pedagang makanan yang baru berkeliaran seakan menjadi teman meskipun mungkin belum pernah bertemu atau bertegur sapa. dia juga sudah sangat akrab dengan angin malam dan hujan yang sesekali turun tanpa memberi tahu terlebih dahulu. ia tidak pernah lupa membawa jas hujan warna jingga yang ia beli dari tetangga sebelah. dalam hangat sikap dan perilaku yang bersahaja, kesendirian selalu dia nikmati. betul-betul orang yang sederhana.

diantara malam penuh khayalan yang ia lalui, yang paling sering ia lamunkan setiap malam adalah satu rasa yang tak biasa terhadap satu orang yang luar biasa. rasa dan angan yang membawa senyumnya setiap hari meskipun hari-hari dirasa tak sebaik yang dibayangkan. rasa yang menguatkan langkahnya walau penat membelenggu. juga pertemuan-pertemuan yang tanpa sadar meluapkan apa yang ada dalam sudut-sudut hatinya. satu alasan yang membuat ia tetap keluar di malam hari, menempuh perjalanan yang tidak bisa dibilang dekat dan menyempatkan untuk sekedar membeli martabak manis atau roti bakar meskipun di cuaca hujan sekalipun, untuk bertemu dengan seseorang, yang ia selalu pikirkan di penghujung hari, di peraduannya. sembari menatap langit-langit kamar, sesak dadanya yang tidak nyaman membuat dia kecanduan. seperti yang seseorang pernah bilang, bagi seorang lelaki, bahkan yang paling brengsek sedunia pun, hanya ada 1 wanita yang ia pikirkan sebelum ia tidur.

tapi akhir-akhir ini sanubarinya yang ia kira lebih luas dari jagad raya dan lebih dalam dari palung mariana seakan tidak bisa lagi menampung kegelisahan dan rasa khawatirnya yang sedari dulu ia takutkan. seandainya wanita itu tahu apa yang sesungguhnya ia rasakan, ia takut bahwa tidak akan ada lagi pertemuan dan kenangan apapun lagi setelah itu. kemudian pada akhirnya, dia akan kehilangan wanita yang ia sayangi, yang juga sahabat terbaik yang ia punya dalam waktu yang bersamaan.

dan malam ini, dalam doanya, terselip harapan kecil disela-sela kepasrahan pada apa yang akan terjadi nanti.

*祈り (Inori) = Doa

2 comments

  1. Yuli Duryat · March 27, 2013

    “seandainya wanita itu tahu apa yang sesungguhnya ia rasakan, ia takut bahwa tidak akan ada lagi pertemuan dan kenangan apapun lagi setelah itu.”

    Tidak ada salahnya untuk mengutarakan apa yang kau rasakan, mengapa harus menduga yang tidak-tidak sementara kau belum mencoba.

    “kemudian pada akhirnya, dia akan kehilangan wanita yang ia sayangi, yang juga sahabat terbaik yang ia punya dalam waktu yang bersamaan.”

    Bagaimana kalau justru sebaliknya? Sebelum terlambat, apa pun yang terjadi, berterus terang lebih baik dari pada kau tetap diam.

    Peace….🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s