Sejenak Lalu Menghentak

kawan,

diam sendiri itu baik. ia tak seburuk yang kau bayangkan. kepalamu yang penuh dengan hal-hal yang tidak ingin kau pikirkan bisa kembali kosong, sama seperti saat kau coba mengambil kemana jalan yang kau pilih. hatimu yang bimbang dengan segala keputusan yang tidak ingin kau ambil, bisa kembali tenang, kembali ke saat kau meneguhkan segala yang kau punya demi satu dua hal yang belum tentu terjadi. ia akan kembali menjadi titik awal, menjadi sebuah alasan. dan kawan, kau akan kembali sadar mengapa kau memilih hidup yang kau hidupi ini.

saat kau sendiri, kawan, tidak usah kau dengarkan omongan, pendapat, cacian, pujian yang mereka layangkan kepadamu. berikan kesempatan pada yang kecil dan yang diam di sudut jiwamu. dan ingat-ingat kapan terakhir kali kau mendengarkannya. ya, hati kecilmu. disaat segala yang besar dan menyesakkan dadamu tak kunjung pergi, hanya ia yang tahu apa yang sebetulnya kau inginkan.

langkah-langkah yang kau ambil tanpa seorang siapapun disisimu, jadikanlah tujuan di ujung perjalanan itu, kebahagiaan orang yang akan menyertaimu nanti. kebahagiaan orang yang menyertaimu kini, dan orang-orang yang pernah menyertaimu dulu.

kawan, diam sendiri itu tidak buruk.

asal kau tahu saat untuk kembali menghentakkan kakimu dan berlari, mengejar apa yang sejatinya kau dambakan.

4 comments

  1. fiaz · January 30, 2013

    Gue selalu suka diam. Diam-diam menghanyutkan, dan menghasilkan pemikiran yang indah

  2. buburasem · February 2, 2013

    dia itu emas, makanya aku diam aja biar jadi emas. asal jangan “emas” ngambang aja –“

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s