Kedok

ada yang terasa harus terlakukan saat itu.
menghabiskan segala ketangguhannya.
seiring segenggam tekadnya yang layu.
laksana terpaku di tanah ia dibawanya.

ia berpikir kenapa ia manusia tak bisa membaca detak hati.
yang mengalirkan doa dalam pembuluh harapan.
beredar seluruh ke seluruh semesta, padahal tak tahu lagi nanti.
bagaimana tunggunya dapat meredefinisikan “kapan”.

selalu ia bertanya, mengapa manusia bisa menyerah kepada tangis.
dan tidak pernah ada  kata terakhir dalam semua itu.
kekosongan yang ia tutupi hanya tinggalnya kepada pikir yang  telah habis.
hingga suatu saat air matanya tak akan lagi berpelukan dengan bumi.

disaat uap menutupi cermin kamar mandi, ia sibak dengan telapak tangannya.
hingga yang tersisa hanya ia yang menatapku dari sisi lainnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s