Puisiku

puisiku malam ini adalah ruang tengah yang kosong temaram,
bersinarkan lampu hemat energi yang tidak bisa menghemat energiku.
bersuarakan desir angin dari taman berdamping surau. mungkin entah berlarian disana,
diriku yang meronta, mengecap manis namun mengharap getir.
beraromakan cucian yang tak sempurna keringnya, bagai aku yang tak sempurna perangainya.
dan kami bertatap muka. aku dan kenanganku, di 40 menit yang telah meninggalkanku.
dan masa yang terarak arus waktu melambungkanku.

di musim semi yang indah, aku adalah boneka salju. terlupakan, dan aku tak akan pernah ada dimanapun saat itu.
di musim hujan yang menenangkan, aku adalah jas hujan yang lupa dibawa para pengendara kuda besi, mereka meneduh di emperan toko seraya mendambaku, yang tak kan pernah mereka bisa dapatkan dalam gigilnya.
di Bandung yang mulai panas ini aku adalah sisa tanah yang terkeruk dari gunung dago. akulah jawaban seruas tanya kenapa udara selayak bara api di kulit mereka…

di hidup ini aku adalah yang dinanti. seperti puisiku, yang dengan kalimat ini, kumusnahkan,
mati

2 comments

  1. audrafinza · September 12, 2012

    seriously I guess your type of characteristic is melancholic, aren’t you?🙂 it’s a great poem… I can’t make something like this:)

    • diffaimajid · September 12, 2012

      hahaha. no, not really. i just love using weird kinds of words, scramble and then try to tell what’s inside my head with it. it’s not that great though😆

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s