Dedicated to Nero

apakah aneh jika saya memiliki rasa iba terhadap barang yang sudah usang, yang terbuang di pinggir jalan, yang terciprat genangan lumpur didekat trotoar? atau yang tergeletak di sudut ruangan berselimut debu dan sarang laba2?

atau misalnya tumbuhan yang tumbuh tak terawat merambat diatas tembok sebuah rumah tua, atau bunga yang tak sengaja tertumbuh di retakan jalan? cengeng? hak anda berpendapat. dan hak saya untuk merasa.

ini tentang Nero…

dari awal saya sudah tidak setuju untuk memelihara segala bentuk apapun makhluk hidup di rumah ini. tapi karena tidak enak sama saudara yang sudah menitipkan, akhirnya kita rawat sebisanya.

sepasang kucing, betina dan jantan. yang betina berbulu putih polos dan yang jantan hitam penuh. beberapa bulan di rumah, mereka seperti orang gila. berlarian kesana kemari. umurnya masih muda. mungkin baru beberapa bulan.

yang hitam bernama Nero. macam aktor, Robert de Nero. ya, saya tahu saya salah. Niro harusnya.

yang paling suka berlarian dan nyelonong masuk rumah cuma dia. yang betina lebih pemalu dan jinak. kadang2 saya duduk di teras dan membiarkan 2 kucing itu naik ke badan saya. sementara saya melamun mematung mencari inspirasi. entah inspirasi untuk apa. tidak pernah ada yang saya ingat.

beberapa minggu lalu, yang betina sakit. muntah dan mencret. kami tidak bisa bawa kucing itu ke dokter karena tidak punya uang. untuk membeli makanan dan susunya pun sudah susah payah. apalagi untuk kucing anggora high maintenance seperti itu tidak bisa sembarang dikasih ikan asin.

kemudian menyusul si jantan ikut sakit.tiap hari badannya makin lemah. meskipun diluar kandang, dia sudah tidak mau berlari lagi. dia cuma bisa tidur. berdua dengan yang betina. bahkan badannya jadi lebih lemah dari yang betina.

hari minggu kemarin, sebelum saya berangkat keluar karena ada urusan, saya menengoknya di kandang. si jantan terlihat tidur. kemudin saya usap2 kepalanya. dia terbangun, tapi kelopak matanya tidak terbuka. memejamkan mata. gerakannya lemah sekali. saya cuma bisa mendoakan agar cepat sembuh karena saya pun tidak punya uang.

ketika malam saya pulang, saya dapat kabar dari adik saya yang sedang diurut bengkak kakinya karena terlalu keras menendang batu saat main bola,

“Aa, si Nero mati”

“Terus mayatnya mana skrg?”

“Udah dikubur deket masjid”

dan kemudian ada rasa menyesal di diri saya. seandainya saya memaksakan memakai seluruh uang yg saya punya meski tidak seberapa untuk pengobatannya, mungkin…ya mungkin dia masih bisa hidup. lalu, saat saya sadar saya jarang ngurus dia, ya…saya merasa seperti sudah menyia2kan sesuatu. dan sekarang, melihat si betina duduk sendirian membuat saya….ah…begitulah. mudah2an yang betina bisa membaik kesehatannya.

pada akhirnya ada beberapa hal yang tidak berubah.

saya kurang begitu senang menghadapi hal2 tentang kematian. meskipun siapa yang meninggalkan itu saya tidak kenal, atau tidak berhubungan sama sekali dengan saya, atau yang mati bukan manusia sekalipun, tetap saja saya merasa ada sesuatu yang nyesek.

kedua, saya tidak suka memelihara binatang.

selamat tinggal Nero. semoga…ya semoga saja…

2 comments

  1. tiara · April 25, 2012

    aduh sedih banget. walau cuma hewan peliharaan tapi karena sudah sering bareng tetap aja ada rasa kehilangan😦

    • diffaimajid · April 25, 2012

      makanya saya gak suka melihara binatang. gak tega. serasa mengurung…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s