Melintas Malam

Kadang-kadang aku melewati setapak bintang, walau pijak tak nampak, namun luluh lantak. Yang ia hadirkan hanya waktu selepas senja, namun sudah cukup bagiku penat kutambat dalam hembusan nestapa yang teriring kelopak bunga seroja. Dapatkah kau lihat, ocehanku yg tanpa makna ini?

Kadang-kadang butir hujan menjabat seluruh ragaku, luruh dibuatnya. Meleleh seiring dingin setengah dua belas yang tetap hidup dalam kesunyian. Atau ciprat air kebasahan. Yang dalam kering ilmu dia tetap mengilhami insan yang berpikir.
Tidak ada gunanya.

Dalam simpul kurasa hampa. Bukan dalam untai karakter sepatah dua patah berpatah-patahan, atau suatu emosi yang kau resapkan dalam satu tabir yang indah. Menentramkanku dalam khidmat yang kau buat. Aku terperdaya. Aku sadar sepenuhnya. Sejak awal.

Aku tak pernah membuka pintu untuk siapapun. Karena tak pernah ada pintu sejak awal. Yg ada hanya labirin kata dan persona dimana aku bisa menuntun siapapun yang masuk kedalamnya. Sesukaku.

Namun ada saja yang hobi merusak fasilitas umum.

*sabtu tengah malam, hujan, sepulang pensi di sabuga.

Posted from WordPress for Android

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s