Kinasih

Sore hari.
Setelah raga jauh berjalan, setapak relung menuju kehampaan. Hingar kuda besi tak kuasa buyarkan lamunan. Dari lensa ku menatap, lembayung sarat makna. Kadang bosan menatapnya, karena tak urung dia merubah, enggan dia berpaling dari senja. Seakan mengejekku. Ya, mungkin hanya perasaanku saja. Dalam timbunan kerikil dan aspal yg memadat kemudian kulukis jejak. Takut bila nanti kau sesat dalam pencarianmu, mencari semua kesalahanmu. Dan kini semakin gundah kulihat jarum berputar, dia meninggalkanku dalam rotasinya dalam satu poros kesetiaanya pada sang waktu. Dia menunjukanya….

Akupun dengan seiring masa dan sepanjang jarak, bersauh diatas daratan samping sungai yg berpagar. Disana kulihat dia seperti biasa, dikelilingi banyak manusia.
“kinasih, apakah kau tidak pernah merasa lelah, dijamah mereka yg hanya inginkan hal yg bagus2 saja darimu?”
“biarkan saja. Ini hidupku walau sejatinya mungkin tak pernah ku ikhlas dgn semua ini. Biarkan, ini tandaku hidup. Tandaku menjejak dunia.”

Kinasih, beda yg engkau tampakkan di bawah langit jingga ini. Tapi aku lebih suka kau yg dulu, aroma tubuhmu, kehangatanmu, canda tawamu. Kau memang lebih kuat dan tegar sekarang. Namun bila berkenan, dirimu yg dulu jangan kau musnahkan. Sisakan sedikit untuk kunikmati. Agar ku bisa berpura pura penuh dalam kekosongan ini.

Kumandang adzan maghrib, dan akupun bergegas berlari menuju getirnya kenyataan.

Posted from WordPress for Android

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s